Pacar lebih milih habisin waktu sama temennya
Blog › Artikel Terbaru
Hubungan

Pacar Lebih Milih Habisin Waktu sama Temennya, Aku Harus Gimana?

Ayu Sella · · 8 min read
Share

Perasaan yang Susah Dijelasin Tapi Nyata Banget

Kamu masih pacaran. Hubungan kalian baik baik aja, tidak ada pertengkaran besar, tidak ada masalah yang keliatan di permukaan. Tapi belakangan ini ada yang terasa berbeda. Pacar kamu makin sering keluar sama teman-temannya, dan kamu mulai bertanya-tanya kapan giliran kamu.

Bukan berarti kamu cemburu sama teman-temannya. Bukan juga berarti kamu mau mengontrol dia. Kamu cuma ngerasa... kurang. Kurang waktu, kurang perhatian, kurang kehadiran. Dan perasaan itu, meskipun susah diucapin, ternyata sangat umum dialami banyak orang dalam hubungan.

Sebelum kamu terlalu jauh menyalahkan diri sendiri atau malah menyalahkan pasangan, ada baiknya kita coba pahami dulu kenapa situasi ini bisa terjadi dan apa sebenarnya yang sedang kamu butuhkan.

Kenapa Pacar Lebih Sering sama Teman Belakangan Ini

Ada banyak kemungkinan di balik perubahan ini, dan tidak semuanya berarti buruk untuk hubungan kalian. Salah satu yang paling umum adalah fase sosial. Orang dewasa muda, terutama di usia 20-an, kadang mengalami periode di mana kebutuhan untuk mempererat pertemanan terasa sangat kuat. Bisa karena teman lama mulai jarang ketemu, ada momen tertentu yang cuma bisa dibagi sama teman, atau memang sedang butuh energi sosial yang berbeda dari yang bisa diberikan pasangan.

Psikolog sosial Roy Baumeister dalam penelitiannya tentang kebutuhan manusia untuk terhubung menjelaskan bahwa setiap orang membutuhkan beberapa jenis hubungan sosial yang berbeda untuk merasa seimbang secara emosional. Pasangan romantis memenuhi satu jenis kebutuhan, tapi pertemanan memenuhi jenis yang lain. Keduanya nyata dan sama pentingnya.

Jadi ketika pacar kamu lebih sering keluar sama teman-temannya, bukan selalu berarti kamu tidak cukup penting baginya. Bisa jadi ia sedang memenuhi kebutuhan yang memang tidak bisa dipenuhi hanya dari satu sumber saja.

Tapi Perasaanmu Juga Valid

Memahami alasan di balik perilaku pasangan bukan berarti perasaanmu harus dikesampingkan. Rasa kesepian di dalam hubungan itu nyata dan tidak bisa begitu saja dianggap lebay atau terlalu sensitif.

Kesepian dalam hubungan romantis bahkan punya nama sendiri dalam literatur psikologi yaitu relational loneliness, kondisi di mana seseorang merasa tidak terhubung secara emosional dengan pasangannya meskipun secara status masih bersama. Penelitian dari Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa relational loneliness bisa berdampak pada kesejahteraan psikologis seseorang hampir setara dengan kesepian akibat tidak punya pasangan sama sekali.

Artinya, apa yang kamu rasakan bukan drama. Itu sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi dan perlu diperhatikan.

Yang Terjadi Kalau Dibiarkan Tanpa Dibicarakan

Banyak orang memilih diam karena tidak mau dianggap posesif atau tidak dewasa. Takut dicap terlalu bergantung, akhirnya memendam semuanya. Masalahnya, perasaan yang terus ditahan lama kelamaan berubah jadi jarak emosional yang makin susah dijembatani.

Dalam terapi pasangan, pola ini dikenal sebagai pursuer-distancer dynamic, di mana satu pihak merasa diabaikan dan mulai menarik perhatian, sementara pihak lain justru merasa tertekan dan semakin menjauh. Kalau siklusnya tidak diputus, hubungan yang sebenarnya masih bisa diselamatkan justru perlahan terkikis dari dalam.

Bukan karena ada yang salah di antara kalian, tapi karena tidak ada yang berani memulai percakapan yang sebenarnya dibutuhkan.

Cara Ngomongnya yang Penting

Kalau kamu memutuskan untuk bicara, cara penyampaiannya jauh lebih menentukan hasilnya daripada isi pesannya sendiri. Pendekatan yang paling efektif menurut penelitian komunikasi dalam hubungan adalah menggunakan kalimat berbasis perasaan pribadi, bukan kalimat yang terdengar seperti tuduhan.

Misalnya, ada perbedaan besar antara bilang "kamu selalu lebih milih teman daripada aku" dengan "aku belakangan ngerasa kangen quality time sama kamu." Kalimat pertama langsung membuat pasangan bersikap defensif. Kalimat kedua membuka ruang untuk bicara dengan lebih jujur dan tanpa tekanan.

Pilih waktu yang tepat juga. Jangan bahas ini pas salah satu dari kalian lagi capek, baru pulang kerja, atau di tengah situasi yang sudah tegang. Obrolan yang dimulai di momen yang tenang jauh lebih mungkin berakhir dengan saling pengertian.

Selain Menunggu, Kamu Juga Bisa Bergerak

Sambil menunggu percakapan itu terjadi atau setelah percakapan itu sudah dilakukan, ada satu hal yang sering dilupakan yaitu kebutuhan sosialmu sendiri. Terlalu menggantungkan semua kebutuhan emosional pada satu orang, meskipun itu pasanganmu, adalah beban yang terlalu berat untuk siapapun.

Coba lihat lagi lingkaran sosialmu. Ada teman lama yang sudah lama tidak dihubungi? Ada komunitas atau aktivitas yang sempat menarik minatmu tapi tidak pernah sempat dicoba? Mengisi waktu dengan koneksi sosial yang bermakna, tidak harus yang baru atau banyak, bisa sangat membantu menstabilkan perasaanmu tanpa harus selalu menunggu respons dari pasangan.

Penelitian dari University of Michigan menunjukkan bahwa orang yang memiliki jaringan dukungan sosial yang lebih beragam cenderung lebih resilien secara emosional, termasuk dalam menghadapi ketidakpuasan dalam hubungan romantis.

Kapan Ini Perlu Dievaluasi Lebih Serius

Ada situasi di mana perasaan ini bukan sekadar sinyal untuk berkomunikasi, melainkan sinyal untuk mengevaluasi hubungan secara lebih dalam. Kalau kamu sudah mencoba bicara lebih dari sekali tapi tidak ada perubahan yang berarti, atau kalau kamu merasa kebutuhanmu secara konsisten dianggap tidak penting, itu bukan soal kamu yang terlalu minta perhatian.

Hubungan yang sehat tidak berarti dua orang yang selalu bersama setiap saat. Tapi hubungan yang sehat memang seharusnya membuat kedua pihak merasa cukup dihargai dan cukup diperhatikan, setidaknya secara konsisten. Kalau standar paling dasar itu tidak terpenuhi bahkan setelah dibicarakan, itu layak untuk dipikirkan lebih jauh.

Bukan karena hubunganmu harus berakhir, tapi karena kamu berhak atas hubungan yang membuat kamu merasa cukup, bukan yang terus-menerus membuat kamu merasa kurang.

Ayu Sella
Ayu Sella
Editor in Chief · Ruang Berdua

Menulis tentang koneksi manusia, kesehatan sosial, dan gaya hidup urban modern. Bergabung dengan Ruang Berdua sejak 2023 dan percaya bahwa setiap orang berhak atas waktu berkualitas bersama orang yang tepat.