Capek Pakai Aplikasi Kencan Ini Alasan Ilmiahnya Ruang Berdua
Blog › Artikel Terbaru
Psikologi

Capek Pakai Aplikasi Kencan? Ini Alasan Ilmiahnya

Ayu Sella · · 7 min read
Share

Kamu Nggak Lemah. Aplikasinya yang Memang Dirancang Menguras Kamu

Kamu buka Tinder, scroll dua puluh menit, nggak ada yang menarik. Kamu buka lagi keesokan harinya karena siapa tahu ada yang baru. Match, ngobrol tiga hari, lalu orang itu menghilang tanpa jejak. Kamu mulai lagi dari awal. Siklus ini berulang sampai di satu titik kamu nggak tahu apakah kamu masih mau cari pasangan atau cuma kebiasaan scrolling yang udah nggak bisa dihentikan.

Kalau kamu pernah berada di titik itu, ada penjelasan ilmiah yang cukup melegakan: kamu bukan yang salah. Otak kamu bereaksi persis seperti yang memang dirancang oleh para insinyur di balik aplikasi-aplikasi kencan tersebut. Dan reaksi itu, dalam jangka panjang, memang melelahkan.

Otak Kamu Diperlakukan seperti Tikus Lab

Ada konsep dalam psikologi perilaku yang disebut variable reward, atau hadiah yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah mekanisme yang sama yang membuat mesin slot kasino begitu adiktif. Kamu tidak tahu kapan jackpot akan datang, tapi ketidakpastian itulah yang membuat kamu terus mencoba.

Aplikasi kencan bekerja dengan cara yang persis sama. Setiap kali kamu geser ke kanan, ada kemungkinan kecil bahwa orang itu akan geser ke kanan juga dan kamu dapat notifikasi "It's a match!" Dopamin melonjak sebentar. Lalu kamu geser lagi. Dan lagi. Otak belajar bahwa scroll adalah jalan menuju hadiah, meskipun hadiahnya jarang sekali datang dan sering kali tidak sebesar yang diharapkan.

Masalahnya, dopamin yang terus dipompa dan jarang terpenuhi ini lambat laun membuat threshold kebahagiaan kamu naik. Artinya kamu butuh stimulasi yang semakin besar untuk merasakan hal yang sama. Itulah kenapa makin lama kamu pakai aplikasi kencan, makin susah untuk merasa puas dengan siapa pun yang kamu temui di sana.

Paradoks Pilihan: Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik

Psikolog Barry Schwartz pernah menulis tentang fenomena yang ia sebut paradox of choice: semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sulit seseorang merasa puas dengan pilihannya. Aplikasi kencan adalah perwujudan sempurna dari teori ini.

Ketika kamu bisa melihat ratusan profil dalam satu malam, otak kamu secara otomatis mulai membandingkan. Orang yang kamu ajak ngobrol hari ini terasa biasa saja karena tadi pagi kamu melihat profil yang terlihat jauh lebih menarik. Tapi profil yang menarik itu tidak membalas pesanmu. Dan besok ada lagi wajah baru yang muncul. Perbandingan tidak pernah berhenti.

Akibatnya, banyak pengguna aplikasi kencan melaporkan bahwa mereka merasa lebih kesepian setelah menggunakan aplikasi, bukan lebih terhubung. Ini bukan ironi yang kebetulan. Ini adalah konsekuensi langsung dari desain yang menempatkan kuantitas di atas kualitas koneksi.

Kelelahan Emosional dari Percakapan yang Tidak Pernah Kemana-mana

Ada satu jenis kelelahan yang sangat spesifik dan sering dirasakan pengguna aktif aplikasi kencan: kelelahan dari memulai percakapan yang sama berulang kali. "Halo, nama kamu siapa, kerja dimana, hobi apa?" Kamu sudah melakukan ritual ini puluhan kali dengan orang yang berbeda-beda, dan sebagian besar percakapan itu mati sebelum berkembang lebih jauh.

Secara psikologis, ini disebut emotional labor. kerja emosional. Setiap percakapan baru membutuhkan energi untuk tampil menarik, menjaga antusiasme, dan mengelola harapan. Ketika percakapan itu berakhir tanpa hasil, energi yang sudah kamu keluarkan tidak kembali. Kamu tetap minus, tapi harus mulai lagi dari awal dengan orang berikutnya.

Belum lagi fenomena ghosting yang sudah jadi hal lumrah di dunia kencan digital. Seseorang yang sudah ngobrol hangat selama beberapa hari tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan apa pun. Secara neurologis, otak memproses penolakan sosial di area yang sama dengan rasa sakit fisik. Jadi setiap kali kamu di-ghost, ada respons nyata di otak kamu, meski kamu belum pernah bertemu orang itu secara langsung.

Self-Esteem yang Perlahan Terkikis

Ini bagian yang paling jarang dibicarakan tapi paling banyak dirasakan. Sistem like dan match di aplikasi kencan secara tidak langsung mengubah cara kamu menilai diri sendiri. Ketika foto terbaikmu, kalimat bio yang sudah diedit berkali-kali, dan versi paling "jual" dari dirimu ternyata tetap tidak menghasilkan banyak match, otak mulai menarik kesimpulan yang salah tentang nilai dirimu.

Riset yang diterbitkan dalam berbagai jurnal psikologi menunjukkan bahwa pengguna aktif aplikasi kencan cenderung memiliki tingkat kepuasan tubuh yang lebih rendah dan harga diri yang lebih rapuh dibanding mereka yang tidak menggunakannya. Dan ini berlaku tanpa membedakan gender. Laki-laki yang jarang dapat match merasa tidak menarik. Perempuan yang sering mendapat pesan murahan merasa tidak dihargai. Dua ujung yang berbeda tapi sama-sama menggerus rasa percaya diri.

Kapan Saatnya Berhenti dan Apa yang Bisa Dilakukan?

Mengenali tanda-tanda burnout dari aplikasi kencan adalah langkah paling penting. Kamu mungkin sudah di sana kalau scroll terasa seperti kewajiban bukan kesenangan, setiap notifikasi bikin cemas bukan senang, dan kamu mulai merasa sinis soal hubungan secara umum.

Istirahat total dari semua aplikasi kencan selama beberapa minggu bukan tanda menyerah. Ini adalah keputusan yang sehat. Otak perlu waktu untuk reset dari siklus dopamin yang terlalu sering distimulasi tapi jarang terpenuhi.

Bagi banyak orang, fase istirahat ini juga jadi waktu untuk kembali ke hal yang lebih mendasar: butuh ditemani, didengarkan, dan merasakan koneksi yang nyata tanpa tekanan untuk berkesan. Di sinilah layanan seperti Ruang Berdua bisa menjadi jeda yang menyehatkan. Bukan pengganti hubungan, tapi ruang untuk kembali merasakan bahwa koneksi dengan orang lain itu bisa terasa ringan dan menyenangkan, tanpa algoritma yang menentukan kamu layak disukai atau tidak.

Karena pada akhirnya, kamu nggak butuh ratusan profil untuk dipilih. Kamu hanya butuh satu percakapan yang terasa benar-benar nyata.

BACA JUGA: Kenapa Orang Dewasa Makin Susah Punya Teman Baru?

Ayu Sella
Ayu Sella
Editor in Chief · Ruang Berdua

Menulis tentang koneksi manusia, kesehatan sosial, dan gaya hidup urban modern. Bergabung dengan Ruang Berdua sejak 2023 dan percaya bahwa setiap orang berhak atas waktu berkualitas bersama orang yang tepat.